Robot Karya ITS Untuk Melawan Corona

2020-06-20 02:18:58


Pandemi COVID-19 sudah beberapa bulan ini semakin meresahkan masyarakat Indonesia. Pemerintah bahkan telah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pada beberapa daerah dengan jumlah kasus terkonfirmasi positif banyak untuk mencegah semakin luasnya penularan penyakit ini.  ITS sebagai sebuah perguruan tinggi berhaluan pengembangan teknologi tidak tinggal diam melihat keadaan ini. Hingga artikel ini ditulis, ITS sudah merilis 3 inovasi untuk memerangi COVID-19.

Inovasi pertama adalah Robot medical Assistant ITS – Airlangga (RAISA), sebuah robot besutan ITS yang berkolaborasi dengan Universitas Airlangga yang tugas utamanya adalah melayani pasien COVID-19 yang sedang diisolasi seperti mengantar makanan, pakaian, maupun obat-obatan. Penciptaan robot ini bertujuan untuk mengurangi kontak antara tenaga medis dan pasien serta menekan pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) yang persediaannya semakin langka. Robot setinggi 1,5 meter ini memiliki empat rak susun yang dapat membawa barang dengan beban maksimal 50 kilogram. Fitur lain adalah monitor yang berfungsi untuk memfasilitasi komunikasi dua arah antara tenaga medis dan pasien. Operasi robot bergantung pada koneksi Wireless Fidelity (Wifi) karena pengendaliannya menggunakan joystick. RAISA dipercaya mampu bertahan selama 8-10 jam, dengan spesifikasi baterai 0,85 kWh. Robot ini merupakan pengembangan gabungan teknologi dari empat robot milik ITS sebelumnya, yakni robot sepakbola beroda (Iris), robot kapal tanpa awak (Barunastra), robot humanoid (Ichiro) dan robot untuk Kontes Robot Indonesia (KRI). Namun penemuan robot ini bukan berarti seluruh peran tenaga medis dapat digantikan. Pasien masih membutuhkan sentuhan hati dan interaksi langsung untuk mendukung psikologi pasien. Pengembangan robot yang biaya oembuatannya sekitar Rp100juta ini didukung oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan selanjutnya akan diserahkan ke RS Universitas Airlangga (RSUA) untuk dioperasikan lebih lanjut. Harapan kedepannya adalah robot ini dapat diproduksi seara masal untuk digunakan di banyak rumah sakit.

Dalam kerjasama dengan Universital Airlangga, selain robot pelayan, ITS juga meluncurkan inovasi ventilator terjangkau. Inovasi ini dilatarbelakangi jumlah pasien COVID-19 yang terus meningkat sehingga kebutuhan akan ventilator juga meningkat, serta mahalnya biaya yang harus dieluarkan untuk mengadakan sebuah ventilator. Satu unit ventilator harganya dapat mencapai Rp800juta, sedangkan ventilator gagasan ITS ini biaya produksinya hanya sekitar Rp20juta. Desain dasar ventilator ini menggunakan desain open source milik Massachusetts Institute of Technology (MIT), termasuk sistem mekanis dan beberapa spesifikasi. Namun, sistem elektronik dan monitoring seluruhnya dikembangkan oleh Tim Ventilator ITS, yaitu sebuah tim yang tediri dari dosen dan mahasiswa Departemen Teknik Fisika ITS. Ventilator ini mendukung fitur Respiration Rate, Inspiration/Expiration Ratio, Tidal Volume, PEEP (Positive End-Expiratory Pressure), dan PIP (Peak Inspiration Pressure). Produksi ventilator mengandalkan komponen yang awam, mempertimbangkan kemungkinan produksi massal di masa depan. Bahan ventilator ini menggunakan Ambu Bag (resuscitator manual) dan akrilik logam, keduanya mudah ditemukan di pasaran. Dalam pengembangannya, Tim Ventilator ITS selalu dibarengi oleh Balai Pengaman Fasilitas Kesehatan (BPFK) Surabaya sehingga selalu sesuai standar dan dapat diproduksi secara massal secepat mungkin.

Inovasi lain dari ITS berawal dari suksesnya riset beberapa dosen ITS mengenai sinar ultraviolet untuk menghilangkan atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Paparan sinar UV berbahaya bagi manusia, sehingga ITS mengembangkan sebuah robot bernama Ultra Violet ITS – Airlangga (VIOLETA) yang berfungsi memudahkan proses sterilisasi ruangan untuk perawatan pasien Covid-19. Violeta menggunakan lampu UV yang dikontrol secara wireless. Penggunaan robot ini efektif pada jarak 1-2 meter dengan durasi pencahayaan 10-15 menit untuk sterilisasi sempurna. Robot 1,5 meter yang berbobot 30 kilogram ini menggunakan lampu UV 30 watt dengan panjang gelombang 200-300 nanometer (nm). Baterai robot dapat bertahan selama 4-6 jam dalam keadaan lampu menyala. Keunggulan sterilisasi menggunakan robot dibandingkan disinfektan adalah keamanan kesehatan yang lebih terjamin karena tidak ada residu atau sisa bahan kimia yang tertinggal setelah dilakukannya proses sterilisasi. Selain itu, robot juga meminimalisir kontak manusia dalam membersihkan ruang isolasi pasien Covid-19. ITS akan segera mengirimkan satu unit robot VIOLETA ke RSUA setelah dilakukan uji mikrobial di laboratorium yang ada di Departemen Biologi ITS.

Tiga inovasi diatas adalah gagasan teknologi solutif dari ITS untuk membantu penanganan pandemi Covid-19. Semoga tiga gagasan diatas dapat menjadi inspirasi pembaca agar tidak “mati kutu” di rumah. Dan lebih baik “mati kutu” di rumah daripada mati terjangkit Covid-19. Stay home, stay safe!

 

Source :

https://www.its.ac.id/news/2020/04/14/kolaborasi-its-unair-luncurkan-raisa-robot-pelayan-pasien-covid-19/

https://www.its.ac.id/news/en/2020/04/07/its-create-low-cost-ventilator-robot-to-help-handling-covid-19-patient/

https://www.its.ac.id/tfisika/id/indonesia-darurat-covid-19-mahasiswa-dan-dosen-teknik-fisika-its-kolaborasi-kembangkan-ventilator-murah/